About

halluuu,,, kenalin,,, anindithya hadir untuk membantu my prend my prend yg juga kuliah di jurusan pendidikan biologi,,, monggo dinikmati pencariannya.

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Eksistensi Bahasa Jawa

Uri - uri Kabudayaan Jawi


Hallo pembaca, lama tak jumpa. setelah sekian lama tidak menulis artikel di blog ini tiba - tiba saya dilanda rindu berat untuk kembali curhat di blog ini. Kali ini saya tidak sedang membahas materi akademik, meskipun Bahasa Jawa juga menjadi mata pelajaran di beberapa sekolah meskpun hanya sebagai muatan lokal. 

Berawal dari lika liku jam mengajar saya. Dimana saya harus mengalah dengan keadaan ketika ijazah Biologi saya harus berbagi ruang dengan mapel lain yang gurunya tidak ada, salah satunya Bahasa Jawa. Ya, saya harus mengjar mapel Bahasa Jawa yang saya sendiri tidak banyak mengerti materinya. saya memang orang jawa. dan saya sedikit banyak bisa berbahasa jawa, karena dalam kehidupan sehari- hari saya berkomunikasi dengan bahasa Jawa. tapi untuk pendalaman materi, seperti tembang, aksara jawa dan lain sebagainya, saya jauh dari kata mampu. tapi karena tuntutan pekerjaan, saya mencoba. 

Lama- lama saya asyik dengan mapel ini. Apalagi ketika saya dipertemukan dengan orang- orang yang benar - benar jurusan Bahasa Jawa. tidak ada kata lain selain terpikat. Kesan pertama yang saya dapat adalah mengorangkan orang, "nguwongke uwong". Bagaimana saya sebagai anak baru di komunitas itu begitu dihargai, dirangkul untuk belajar bersama. dipenuhi segala ketidakmampuan saya dengan kesempatan belajar seluas - luasnya. Dilarang segan untuk bertanya.

Karena mulai mengenal, akhirnya saya jatuh cinta. Jatuh cinta karena tata kramanya, karena keanggunannya, karena keluhurannya, dan karena - karena yang lain lagi. Pokoknya saya jatuh cinta. Dan karena saya jatuh cinta, dalam keseharian saya mulai menggunakan bahasa jawa yang baik dan benar. Bahasa jawa yang sesuai tingkatannya. Artinya ada bahasa yang berbeda ketika saya berbicara dengan orang berbeda. Saya mengucapkan dhahar untuk suami saya, nedha untuk adik atau anak saya, mangan untuk kucing saya, yang kesemuanya artinya makan. 

Ada istilah wong jowo lali Jawane, artinya orang jawa lupa akan ke-jawa-annya. Orang jawa yang tidak tau bahasa jawa, orang jawa yang lupa unggah - ungguh atau tata krama berbahasa jawa. Saya kira istilah itu hanya untuk anak - anak saja. Maksud saya, bagaimanapun orang yang usianya di atas saya, saya anggap mampu mengimplikasikan bahasa jawa dengan baik. Karena saya percaya kualitas generasi Bapak Ibu saya sangat mahir berbahasa jawa. Dan generasi saya mulai menggunakan bahasa Indonesia pasti kesusahan menggunakan bahasa jawa (seperti saya pada mulany). 



Ternyata saya salah besar. Dan ini saya temukan saat saya mengalami kasus ini. Saya menemukan bahwa eksistensi Bahasa Jawa hanya keilmuan semata, tidak berlaku dalam kehidupan sehari- hari.

Saat dalam suatu kejadian dimana saya harus berurusan dengan birokrasi setempat (masih di jawa, yang masyarakatnya berbahasa jawa), saya berusaha menggunakan ilmu yang saya dapat. saya berusaha menghormati pejabat- pejabat yang ada dengan berbahasa jawa krama inggil, karena beliau- beliau adalah orang yang lebih tua dari saya. Tetapi setelah seharian kami berkomunikasi, kami tidak menemukan kesepakatan yang sama, intinya kami saling salah paham. Saya tetap bersikeras dengan keinginan saya, dengan berargumentasi menggunakan bahasa jawa, dan beliau tetap membantah saya dengan menggunakan bahasa jawa campur Indonesia (jangan dikira cuma es yang ada es campur, bahasa juuga ada). Bahkan di grup chat yang di dalamnya ada saya, mereka membully karena menganggap saya ngeyel. 

Keesokannya, dengan tetap  menjaga kesopanan, kembali saya hubungi salah satu dari beliau, kali ini dengan sedikit memohon agar dimudahkan. Dan saya jelaskan dengan menggunakan Bahasa Indonesia, barulah beliau sadar, termsuk saya, bahwa seharian kami kami salah paham. Yang saya maksudkan tidak saya dengan yang beliau maksud, ibarat saya beli deterjen dikasih sabun. 

Disitulah saya mulai mengerti bahwa beliau tidak paham dengan bahasa jawa krama yang saya gunakan. Dan saat saya bertanya kepada beberapa teman saya apakah akhir - akhir ini saya menggunakan bahsa jawa yang sulit dimengerti? Hampir semuanya menjawab ya. 

Saya hanya bisa nyengir, padahal bahasa yang saya gunakan adalah bahasa yang digunakan mbah - mbah mereka dulu. Bahasa yang penuh kehalusan dan tata krama. Saya perlahan menyadari, bahasa Jawa diambang kepunahan. wong jowo lali jawane begitu meluas. Tak ayal, sekarang banyak muda mudi yang seperti tidak mengenal sopan santun,  menghardik orangtua, dan memperlakukan orang yang lebih tua seperti teman. Bahasa jawa benar - benar telah menjadi sekedar ilmu kebahasaan. Yang walaupun diajarkan namun tidak ada penerapan. Mungkin sebentar lagi, bahasa jawa akan bernasib sama seperti bahasa suku aztec atau suku maya, yang hanya dipelajari oleh arkeolog dan pemburu harta karun (keseringan liat film mummy). 

Finally, meskipun saya tak bisa berbuat banyak untuk kelangsungan bahasa saya, tapi saya memimpikan ini agar menjadi bahasa ibu dan bahasa keseharian putra - putri saya.
Share:

SISTEM SIRKULASI DAN SISTEM SYARAF

B.     Tekanan Darah
Tekanan darah adalah kekuatan yang diperlukan agar darah dapat mengalir dalam pembuluh darah dan dapat beredar untuk mencapai seluruh jaringan tubuh. Tekanan darah dapat dibedakan menjadi tekanan darah sistolik dan tekanan darah diastolik. Tekanan darah sistolik adalah tekanan darah pada saat jantung menguncup atau systole. Sedangkan tekanan darah diastolic adalah tekanan darah pada saat jantung mengendor kembali atau dikenal dengan diastole. Dengan demikian tekanan darah manusia selalu berayun – ayun tinggi rendah sesuai dengan detak jantung.
Tekanan darah dapat diukur menggunakan tensimeter dikenal juga dengan nama sfigmomanometer. Ketika melakukan pengukuran, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, misalnya pengukuran dilakukan dengan lengan dalam keadaan santai, dan juga harus diperhatikan waktu pengukurannya.
 
Gambar 2. Sfigmomanometer

Orang yang baru bangun tidur memiliki tekanan darah yang paling rendah, dikenal dengan istilah tekanan darah basal, maka sebaiknya pengukuran dilakukan setelah duduk santai selama 10 menit. Sebaliknya pada orang yang selesai beraktivitas jasmaniah akan didapatkan tekanan darah yang relative tinggi, dikenal dengan tekanan darah kasual, sama halnya seperti di atas, orang tersebut sebaiknya diberi waktu beristirahat sebelum pengukuran selama 10 menit. Selain itu menkonsumsi rokok dan meminum kopi juga dapat menyebabkan kenaikan pada tekanan darah.
Jika pengukuran tekanan darah dilakukan berulang dan hasilnya berbeda, maka yang diambil adalah yang paling rendah. Dan yang terakhir ukuran manset harus sesuai dengan ukuran lingkar lengan, yaitu melingkari 80% lengan, sehingga akan lebih baik jika memiliki manset dengan berbagai ukuran untuk orang dewasa, anak – anak, dan orang gemuk.
Tekanan darah dapat digolongkan menjadi 3 kelompok, yaitu:
1.      Tekanan darah tinggi ( hipertensi )
2.      Tekanan darah normal ( normotensi )
3.      Tekanan darah rendah ( hipotensi )
 
Gambar 3. Mengukur Tekanan Darah

Menurut Mallet dan Balley ( 1996 ) tekanan darah yang normal berkisar antara 100/60 – 140/90 mmHg, tetapi bervariasi tergantung pada usia dan variabel lainnya. Berdasarkan banyaknya pendapat yang berbeda mengenai tekanan darah yang normal, maka WHO membuat standart batasan tekanan darah.
Tabel Batasan Tekanan Darah Menurut WHO
Sistolik
Diastolik
Keterangan
< 140
< 90
Normotensi
141 - 159
91 – 94
Perbatasan
> 160
> 95
Hipertensi

Faktor yang dapat mempengaruhi tekanan darah antara lain adalah:
1.      Volume darah, berkurangnya volume darah yang bersirkulasi dapat menyebabkan penurunan tekanan darah, baik pada sistolik maupun diastolik.
2.      Frekuensi jantung, tekanan darah meningakan seiring meningkatnya frekuensi detak jantung.
3.      Usia, tekanan darah naik seiring meningkatnya usia.
4.      Variasi diurnal, tekanan darah paling tinggi pada saat malam hari dan paling rendah pada pagi hari dan senantiasa berubah – ubah ketika sedang beraktivitas.
5.      Berat badan, berat badan yang tinggi cenderung memiliki tekanan darah yang tinggi.
6.      Alkohol dan rokok, mengkonsumsi alkohol dan rokok juga dapat meningkatkan tekanan darah.
7.      Makan, tekanan darah akan meningkat pada saat ingesti makanan
8.      Stress, takut, dan emosi lainnya juga akan meningkatkan tekanan darah.
9.      Latihan fisik, dapat mempengaruhi peningkatan tekanan darah selama 30 – 60  menit.
10.  Keturunan, orang yang menderita darah tinggi, 50% diantaranya berasal dari orang tua yang memiliki tekanan darah yang tinggi.
Hasil praktikum yang disajikan pada tabel data dan analisis bab sebelumnya menunjukkan bahwa seluruh sample memiliki tekanan darah yang normotensi.


Share:

Total Pengunjung Blog

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Eksistensi Bahasa Jawa

Uri - uri Kabudayaan Jawi Hallo pembaca, lama tak jumpa. setelah sekian lama tidak menulis artikel di blog ini tiba - tiba saya dilanda ...

Pengikut

Blogger templates